Kamis, 06 Maret 2014

Tugas Sekolah.

MENGANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN



Maling
Karya Lidya Kartika Dewi
                Sejak merenovasi rumahnya yang sederhana menjadi rumah megah, perilaku keluarga Pak Cokro berubah total! Berada persis di depan sebuah gang yang tidak terlalu lebar, rumah Pak Cokro kini bak istana yang berdiri di antara rumah-rumah sederhana dan sangat sederhana para tetangganya.
                Dulu, sebelum rumahnya direnovasi, Pak Cokro dan istrinya sangat ramah dan menjaga hubungan baik dengan para tetangganya, terlebih dengan keluarga Bu Marni yang rumahnya persis di depan rumah Pak Cokro. Begitu dekatnya hubungan bertetangga itu sehingga mereka sudah seperti saudara. Jika punya kelebihan makanan, Pak Cokro selalu menyuruh sang istri membaginya kepada Bu Marni. “Kasihan. Bu Marni sudah janda, sedangkan empat anaknya masih kecil-kecil,” katanya.
                Bu Marni membalas kebaikan Pak Cokro dan istrinya dengan sikap kekeluargaan yang tak kalah intimnya. Bu Marni sering membantu pekerjaan rumah Bu Cokro, tanpa pernah minta imbalan. Mulai dari mencuci baju, menyetrika, sampai mengepel lantai. Tetapi, Bu cokro sangat tahu kalau membantu bersih-bersih di rumah tetangga merupakan sumber nafkah Bu Marni. Bu Cokro pun selalu memberi imbalan uang yang sangat pantas sehingga hubungan bertetangga mereka sangat mesra dan harmonis.
                Akan tetapi, kini, kemesraan dan keharmonisan itu sudah tiada. Rumah Pak Cokro yang sekarang bertingkat dua dan megah bak istana itu berpagar tinggi. Jangan lagi untuk menjenguk ke dalam rumah yang megah itu, untuk melihat teras depannya saja, sekarang Bu Marni tidak bisa. Karena pagar depan rumah yang tinggi itu ditutup pula dengan fiberglas warna biru tua. Jadi, semakin jauhlah jarak hubungan antara keluarga Pak Cokro dengan para tetangganya, juga dengan Bu Marni. Apalagi, untuk mengurusi rumahnya yang besar itu, Pak Cokro kini sudah mempekerjakan dua orang pembantu yang diambil dari desa.
                Bu Marni, juga para tetangga yang lain, bisa memahami perubahan sikap keluarga Pak Cokro. Mereka memaklumi. OKB, orang kaya baru, biasanya memang snob! Para tetangga, juga Bu Marni, tak ambil peduli.
                Akan tetapi, sore itu, kuping Bu Marni memanas. Motor bebek yang biasa dipakai Hendi, anak Pak Cokro yang kedua, hilang. Mengetahui hal itu, dengan membuka pintu pagar depan rumahnya lebar-lebar, Pak Cokro yang baru pulang kerja langsung berteriak-teriak.
                “Makannya, Hendi, kamu itu jangan sembrono! Nyimpan motor di luar pintu pagar rumah, ya pasti dicolong maling! Sekarang, memang banyak maling disekitar rumah kita ini. Jangankan motor. Sandal, sepatu, sapu, payung, bahkan, pot bunga aja kalau disimpan di luar pintu pagar, pasti hilang! Ngerti kamu?”
                “Ngerti , Pak,” jawab Hendi lirih.
                “Makanya, kamu harus hati-hati! Kamu harus tahu, apa pekerjaan orang depan rumah kita itu?”
                Hendi membisu.
                “Kamu juga harus tahu,” tukas Pak Cokro pula. “Banyak orang iri pada kita sehingga orang yang tadinya baik, bisa jadi maling!”
                Bu Marni, yang kala itu sedang menyapu teras depan rumahnya, merasa tersinggung oleh kata-kata Pak Cokro yang seperti sengaja dibidikkan padanya. Secara tidak langsung, Pak Cokro telah menuduhnya sebagai maling.
                Segera Bu Marni meletakkan sapunya. Tetapi, ketika ia bergegas melangkah menghampiri rumah Pak Cokro,dengan tergesa dan menghentak Pak Cokro menutup pintu pagar depan rumahnya. Bu Marni yang sudah terlanjur dibakar api kemarahan, dengan sedikit kasar mengetuk-ketuk pagar yang ditutupi fiberglas itu sambil berseru, “Assalamualaikum!”
                Terpaksa Pak Cokro membuka kembali pintu pagar rumahnya.  
                “Ada apa, Bu?” tanya Pak Cokro, berlagak bego.
                “Pak Cokro menuduh saya mencuri motor bebek Hendi?” suara Bu Marni memburu.
                “Ah, siapa yang bilang?” Pak Cokro pasang mimik serius.
                “Saya dengar waktu Pak Cokro berteriak-teriak memarahi Hendi” kata Bu Marni.
                “Ah, itu perasaan Bu Marni saja,” suara Pak Cokro berubah santai, ramah. “Percaya, Bu, saya nggak nuduh siapa-siapa. Saya hanya memarahi Hendi agar tidak teledor. Gang depan rumah kita ini kan jalan yang hidup. Banyak orang lalu-lalang. Jadi, mana bisa saya menuduh orang sembarangan?”
                Bu Marni terdiam, tak mampu untuk membela diri lebih jauh. Lalu, tanpa permisi ia pergi meninggalkan halaman rumah Pak Cokro, walau di dalam hatinya masih tersimpan rasa kesal.
                Sepeninggal Bu Marni, Pak Cokro menutup pintu pagar rumahnya sambil bergumam, “Huh, dasar miskin. Ada orang ngomong sedikit keras aja tersinggung!”
                Akhir-akhir ini, sore hari, seringkali pintu pagar depan rumah Pak Cokro dibuka lebar-lebar. Dan, beberapa kali secara tidak sengaja Bu Marni melihat Pak Cokro tengah duduk melamun. Awalnya, Bu Marni menduga Pak Cokro kelelahan setelah seharian bekerja. Tetapi, belakangan Bu Marni mulai curiga ketika mulai ramai disiarkan di beberapa stasiun TV bahwa di departemen tempat Pak Cokro bekerja telah terbongkar megakorupsi.
                Apakah Pak Cokro terlibat di dalamnya? Bukan hanya Bu Marni, para tetangga juga mulai ramai berbisik-bisik tentang dugaan keterlibatan Pak Cokro. Akhirnya, dugaan itu menjadi kenyataan, ketika siaran berita di TV mulai menyebut-nyebut nama Pak Cokro terlibat dalam megakorupsi itu.
                Bu Marni menghela nafas puas. Sakit hatinya karena dicurigai sebagai maling oleh Pak Cokro kini mendapatkan momen untuk dilampiaskan. Akhirnya, ketika sore itu, pintu pagar depan rumah Pak Cokro terbuka lebar dan tampak Pak Cokro tengah duduk melamun, Bu Marni langsung berkata dengan suara keras, menyambut Sekar, anak pertamanya yang baru pulang dari mengaji di rumah Ustadzah Yoyoh.
                “Makanya, Sekar, kamu belajar ngaji  yang baik. Biar moralmu baik. Agar kalaubesok-besok   kamu jadi pejabat, kamu nggak jadi maling!”
                Seakan tahu kepada siapa ucapan ibunya ditujukan, cepat Sekar menukas.
                “Ah, kalau pejabat bukan maling, Bu. Tapi koruptor!”
                “Ah, itu kan hanya istilah!” teriak Bu Marni. ” Tapi hakikatnya sama saja, maling! Banyak duit dari hasil maling aja sombong!”
                Mendengar teriakan Bu Marni, Pak Cokro tak tahan. Ia tahu, teriakan itu ditujukan kepadanya. Buru-buru Pak Cokro bangkit dari duduk dan segera menutup pintu pagar depan rumahnya rapat-rapat.
                Melihat ucapannya mengenai sasaran, Bu Marni dan Sekar berpelukan sambil tersenyum penuh kemenangan. Beberapa hari yang lalu, sang ibu memang telah mengatakan pada sang anak bahwa ia akan melampiaskan dendamnya kepada Pak Cokro. Kini, sakit hati itu telah terbayar!
                Hari masih pagi. Masih sangat pagi. Matahari masih malu-malu bersinar dari ufuk timur. Pohon jambu air, daunnya rimbun dan buahnya lebat yang tumbuh di halaman depan rumah Bu Marni masih tampak segar karena masih digayuti embun. Bu Marni tengah sibuk menyapu halaman depan rumahnya yang dikotori daun-daunan jambu air yang gugur saat terdengar suara memberi salam.
                “Assalamualaikum.”
                Bu Marni menghentikan aktivitasnya menyapu dan menatap ke arah pintu pagar.
                “Waalaikumsalam. Eh, Bu Cokro.”
                Bu Marni meletakkan sapu lidi sembarangan dan bergegas ke pintu pagar dan membukanya. ”Mari masuk, Bu.” ucapnya, ramah.
                “Maaf mengganggu.” Senyum Bu Cokro, sedikit rikuh.
                “Oh, nggaknggak.” Bu Marni melangkah ke teras. Bu Cokro membuntuti. Di kursi teras keduanya duduk berdampingan.
                “Ada perlu apa, Bu?” kening Bu Marni berkerut, penuh tanya. “Kalau bersedia, saya minta Bu Marni membantu-bantu lagi di rumah saya,” kata Bu Cokro, hati-hati.
                “Lho, memang pembantu rumahnya ke mana, Bu?” tanya Bu Marni heran. Benar-benar heran. Ia memang tak tahu persis apa yang telah terjadi di dalam rumah besar bak istana itu.
                “Sebelum digelandang ke hotel prodeo, Pak Cokro meminta dua pembantu rumah kami supaya dipulangkan ke desa. Sebagai gantinya memohon Bu Marni untuk kembali membantu-bantu di rumah kami.”
                “Ooo.” Bu Marni manggut-manggut.
                “Bu Marni mau, kan?” sela Bu Cokro penuh harap.
                Bu Marni tidak segera menjawab teringat ia pada sikap kasar dan sombong keluarga Pak Cokro setelah jadi orang kaya. Tetapi, segera pula Bu Marni menyadari posisinya sebagai janda miskin dengan empat anak. Demi urusan perut dan biaya pendidikan keempat anaknya, rasa sakit hati itu harus Bu Marni buang jauh-jauh.
                “Ya, ya, saya mau, Bu,” ucap Bu Marni sumringah, bungah. “Tapi, maaf, Bu. Kalau boleh saya tahu, hotel prodeo itu apa?”
                Sesaat Bu Cokro tampak ragu untuk bicara. “Penjara,” katanya kemudian.
                “Tapi, suami saya nggak bakal lama mendekam di sana. Paling lama satu tahun. Itu karena kesalahan Pak Cokro tidak terlalu besar.”
                “Ooo.” Kembali Bu Marni manggut-manggut.
                “Yah, nggak apa-apalah dipenjara. Itung-itung istirahat dari rutinitas kerja,” sambung Bu Cokro. “Karena walau dipenjara, saya sudah lihat, tempatnya enak, seperti di hotel. Ada AC, kulkas, juga TV.”
                “Ooo.” Lagi-lagi Bu Marni hanya bisa manggut-manggut.

ANALISIS:
 

Judul => Maling

Tema => Kesombongan dari hasil korupsi

Setting =>
tempat : rumah Pak Cokro ( bukti : rumah Pak Cokro bak istana,... ), rumah Bu Marni ( bukti : ...terlebih dengan keluarga Bu Marni yang rumahnya persis di depan rumah Pak Cokro. )
waktu : sore hari ( bukti : Akan tetapi, sore itu, kuping Bu Marni memanas. )
pagi hari ( bukti : Hari masih pagi. )
suasana : tegang ( bukti : kuping Bu Marni memanas,...), kekeluargaan ( bukti : Dulu keluarga Bu Cokro sering memberikan makanan kepada keluarga Bu Marni.)

Alur => campuran, bukti : 
a.pengenalan masalah ( Keluarga Pak Cokro menjadi sombong karena rumahnya paling bagus dibanding dengan rumah tetangganya yang lain. )
b.Flash back (dulunya keluarga pak cokro sangat ramah dan menjaga hubungan baik dengan para tetangga nya)
c. pertikaian (bukti : Pak Cokro menuduh Bu Marni mencuri harta bendanya. )
d. Klimaks ( bukti : Ternyata Pak Cokro adalah seorang koruptor. )
e. Antiklimaks ( bukti : Bu Marni merasa iba sehingga ia sadar bahwa Tuhan yang akan membalas semua kejahatan manusia. )
f. Penyelesaian ( bukti : Bu Marni mau membantu Bu Cokro saat Pak Cokro dalam masa tahanan. )

Penokohan :
Pak Cokro -> sombong
Bu Cokro -> sombong
Hendi -> ceroboh
Bu Marni -> baik hati
Sekar -> rajin

Sudut pandang : orang ketiga

Nilai moral => Bu Marni tetap menerima Bu Cokro dengan sopan walaupun keluarga Bu Cokro telah menghina Bu Marni.

Nilai Sosial => Bu Marni tetap mau membantu pekerjaan rumah Bu Cokro walaupun ia pernah sakit hati. Ia tidak menaruh dendam.

Nilai Agama => Sekar pulang mengaji dari rumah ustadzah yoyoh.

Amanat => jangan menjadi kacang lupa kulitnya. tetaplah ramah, baik pada setiap orang walau pun sudah sukses, kesombongan hanya akan membawa kita ke jurang kesengsaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar